davidhermansyah.com

Menu
  • Sample Page
Menu

Ketika Kereta Terlambat 15-30 Menit : Alarm Kecil yang Tak Boleh Diabaikan

Posted on 12 December 2025 by mbahdave74@gmail.com

Dalam satu tahun terakhir, saya naik kereta api hampir 30 kali dengan waktu dan rute yang berbeda-beda. Dari segi pelayanan, kebersihan, dan kenyamanan, KAI masih sangat baik. Standar ini—harus diakui—masih setara dengan masa kepemimpinan Pak Ignasius Jonan.

Ini bukan berarti tidak menghargai direksi setelah beliau. Namun faktanya, kinerja Pak Jonan memang layak dijadikan tolok ukur karena di masa itulah terjadi perubahan besar: budaya lama yang berkarat diubah menjadi budaya pelayanan yang disiplin dan cemerlang.

Namun ada satu hal yang perlu disorot: ketepatan waktu.

Belakangan ini, keterlambatan kedatangan kereta di stasiun tujuan cukup sering terjadi. Memang hanya 15–30 menit. Tidak sampai berjam-jam seperti masa lalu—sampai Iwan Fals mengabadikannya dalam lagu: “dua jam kereta terlambat sudah biasa.”

Tapi justru di situlah masalahnya.

Sependek ingatan saya, keterlambatan 15–30 menit nyaris tidak pernah terjadi di era Pak Jonan. Saat itu, tepat waktu bukan sekadar target, tapi budaya.

Mungkin ada yang berpikir, “Halah, cuma di bawah satu jam saja kok ribut.”
Justru karena masih di bawah satu jam, KAI harus mulai berbenah.

Karena ketika keterlambatan sudah satu jam atau lebih, itu bukan lagi gejala awal—melainkan kerusakan yang sudah menyebar.

Dalam ilmu sosial ada konsep teori Broken Windows. Intinya sederhana: kerusakan kecil yang dibiarkan akan mengundang kerusakan yang lebih besar. Satu jendela pecah yang tidak diperbaiki akan membuat kerusakan lain dianggap wajar.

Keterlambatan 15–30 menit adalah “jendela yang mulai retak”.
Bukan soal durasinya, tapi soal standar yang mulai ditoleransi untuk dilanggar.

Hari ini 15 menit dianggap wajar.
Besok 30 menit dimaklumi.
Lusa 45 menit mulai dianggap biasa.
Akhirnya bobol hehehe.

Tanpa sadar, disiplin waktu—yang dulu menjadi DNA KAI—perlahan terkikis.

Hal ini sejalan dengan buku The Power of Habit karya Charles Duhigg. Ia menjelaskan konsep keystone habit: kebiasaan kecil yang jika dijaga ketat, akan memberi dampak besar ke seluruh organisasi.

Contoh paling terkenal adalah perusahaan aluminium Alcoa. CEO-nya justru fokus pada satu hal: keselamatan kerja. Bukan laba, bukan ekspansi. Hanya safety.

Hasilnya? Proses kerja menjadi lebih disiplin, komunikasi membaik, efisiensi meningkat—dan keuntungan justru melonjak.

Ketepatan waktu di KAI dulu adalah keystone habit.
Ia mencerminkan disiplin, koordinasi, tanggung jawab, dan rasa hormat pada penumpang.

Ketika kebiasaan kunci ini mulai longgar—walau hanya 15 menit—pesannya jelas: standar bisa dinegosiasikan.

Sejarah membuktikan, organisasi besar tidak runtuh karena satu kesalahan besar, tetapi karena pembiaran terhadap kesalahan kecil.

Tulisan ini bukan keluhan remeh, semoga dibaca KAI dan diberi tiket gratis hehehe. Ini alarm dini.

Selama keterlambatan masih 15–30 menit, masalah ini masih bisa diperbaiki. Standar emas masih bisa ditegakkan. Budaya disiplin masih bisa dihidupkan kembali.

Karena budaya yang runtuh, jauh lebih sulit dibangun ulang dibanding menjaganya sejak awal.
(Mbah Dave 13 Desember 2025)

Category: Uncategorised

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Bagaimana Menjadi Seorang CEO?
  • Ketika Kereta Terlambat 15-30 Menit : Alarm Kecil yang Tak Boleh Diabaikan
  • AI adalah Peluang Besar, Tapi Juga Ancaman Ketimpangan Baru—Apa yang Harus Dilakukan Negara Berkembang?
  • Algoritma Viogen: Teknologi Prediktif untuk Memerangi Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Indonesia
  • Pembelajaran Dari Peretasan Pusat Data Nasional

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • December 2025
  • July 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • April 2023

Categories

  • Geek
  • Motivasi
  • Nyeni
  • Uncategorised
© 2026 davidhermansyah.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme