Kemarin saya baca berita kalau lebih dari 50 persen remaja sekarang pakai chatbot untuk tugas sekolah. Dan jujur, alih-alih khawatir, saya malah mikir ini natural banget. Waktu saya SMA dulu, saya cari jawaban di ensiklopedia atau tanya ke teman yang pinter. Sekarang anak-anak tinggal ketik ke ChatGPT, kan lebih praktis?
Tapi yah, ini juga yang bikin banyak orang panik. Guru bilang itu curang, orang tua khawatir anak jadi malas pikir, dan ada yang sampai bilang teknologi ini bakal ngrusak pendidikan kita. Saya dengarkan sih semua kekhawatiran itu, tapi menurut saya perspektifnya perlu digeser dikit.
Ini Bukan Pertama Kalinya Teknologi Bikin Guru Panik
Nggak jauh-jauh, pikirkan aja waktu kalkulator pertama kali ada. Guru-guru ngamuk, “Anak-anak akan lupa hitung-hitungan!” Padahal faktanya apa? Kalkulator malah bantu manusia fokus pada logika dan problem solving yang lebih kompleks, bukan hanging di aritmetika dasar.
Begitu juga Google. Dulu orang was-was kalau semua siswa bisa cari informasi sendiri, kenapa perlu hafal semuanya. Tapi yang terjadi malah yang pinter adalah orang yang tahu cara mencari informasi yang tepat dan verifikasi sumber. Skill yang lebih berharga, kan?
Chatbot ini mirip-mirip. Tool-nya ada, tapi yang jadi persoalan adalah how we use it. Itu tanggung jawab pendidikan, bukan tanggung jawab teknologi.
Dari Perspektif Saya Sebagai CEO
Ketika merekrut di perusahaan saya, saya nggak terlalu pedulian kalau calon karyawan pernah gunakan ChatGPT untuk belajar coding. Yang saya peduliin adalah dia paham konsep, bisa debug, dan bisa adaptasi. Saya mau orang yang tahu kapan harus pakai tool dan kapan harus mikir sendiri.
Dan yang kita lihat di industri sekarang, terutama tech, orang-orang sukses adalah yang bisa leverage teknologi baru dengan cepat. Mereka nggak takut eksperimen dengan chatbot, machine learning, automation. Itu competitive advantage mereka.
Jadi kalau remaja sekarang udah biasa pakai chatbot, menurut saya itu justru persiapan mereka untuk kerja di era sekarang. Asalkan mereka paham cara pakainya dengan benar.
Tapi Ada Nuansanya, Sih
Saya nggak bilang “copycat pake chatbot terus submit” itu okey. Itu memang nggak baik. Tapi yang perlu dikerjain guru dan orang tua adalah edukasi, bukan larangan. Ajari anak kapan dan gimana pakai chatbot dengan smart. Apa bedanya antara curi jawaban versus menggunakan tool untuk pahami konsep?
Misalnya, kalau PR matematika ribet, mereka bisa suruh chatbot jelasin konsepnya dulu, terus coba soal sendiri. Atau kalau essay bahasa Inggris, suruh chatbot koreksi grammar dan struktur. Itu beda banget sama “eh copas aja dari chatbot.”
Poin saya adalah, teknologi ini nggak bakal hilang. Yang perlu berubah adalah cara kita ngajar dan cara kita atur sistem pendidikan. Kurrikulum mungkin perlu refresh. Cara evaluasi mungkin perlu adaptif. Tapi melarang? Itu kayak melarang anak bawa kalkulator di era digital.
Jadi, Apa Kesimpulannya?
Daripada panik, saya pikir kita harus optimis tapi tetap kritis. Orang tua bisa mulai ngobrol sama anak tentang chatbot, bukan tegur-tegoran. Guru bisa design assignment yang nggak gampang di-copy-paste. Dan kita semua perlu ingat, pendidikan itu tentang develop critical thinking, bukan sekadar hafal fakta.
Chatbot bukan musuh pendidikan. Tool yang nggak digunakan dengan bijak adalah musuhnya. Ada bedanya, kan?