Kemarin muncul berita bahwa Anthropic, perusahaan AI di balik Claude, menuduh tiga perusahaan dari China mengambil data mereka tanpa izin. Hal ini menunjukkan situasi yang bisa saja dialami oleh perusahaan teknologi mana pun, termasuk startup di Indonesia.
Kalau sebuah produk atau teknologi cukup baik, hampir pasti akan ada pihak yang mencoba memahami cara kerjanya secara mendalam atau bahkan mengambil apa yang mereka bisa. Di era AI saat ini, data menjadi aset yang sangat berharga. Semakin banyak data berkualitas yang dimiliki, semakin baik pula model yang dapat dikembangkan.
Di sisi lain, perdebatan mengenai penggunaan data sebenarnya bukan hal baru di industri AI. Banyak model AI dikembangkan menggunakan data dalam jumlah sangat besar yang diambil dari internet, dan dalam banyak kasus juga tanpa izin langsung dari pemilik kontennya. Artinya, isu mengenai penggunaan data tanpa persetujuan ini bukan hanya terjadi pada satu pihak saja, tetapi sudah menjadi persoalan yang lebih luas dalam ekosistem pengembangan AI saat ini.
Ketika sebuah perusahaan memiliki model AI yang kuat dan di sisi lain terdapat pasar besar dengan ambisi untuk menjadi pemimpin di industri yang sama, potensi gesekan menjadi tidak terhindarkan. Terutama jika dihadapkan pada regulasi yang berbeda atau tingkat persaingan yang tinggi.
Namun, penggunaan data atau sumber daya milik pihak lain tanpa izin tetap merupakan pelanggaran hukum. Aturan mengenai hak kekayaan intelektual dan ketentuan penggunaan dibuat untuk melindungi hasil kerja dan investasi yang telah dikeluarkan dalam membangun suatu sistem.
Dengan infrastruktur komputasi awan yang bersifat global, selalu ada kemungkinan terjadinya penyalahgunaan. Antarmuka pemrograman aplikasi dapat diakses di luar tujuan awal, dan data berpotensi diambil tanpa izin. Hal-hal seperti ini bukan sekadar kemungkinan, tetapi merupakan risiko nyata yang perlu diantisipasi oleh perusahaan teknologi.
Karena itu, keamanan dan pemantauan sistem menjadi sangat penting. Perusahaan perlu mengetahui siapa yang mengakses sistem mereka, dari mana akses tersebut dilakukan, dan untuk tujuan apa. Tanpa visibilitas yang memadai, penyalahgunaan dapat terjadi tanpa disadari.
Selain itu, ketentuan penggunaan bukan hanya formalitas administratif, tetapi juga merupakan perlindungan hukum yang harus ditegakkan secara konsisten untuk mencegah dampak yang merugikan.
Persaingan di industri teknologi saat ini juga tidak lagi bersifat lokal. Siapa pun yang memiliki akses internet dapat menjadi kompetitor atau bahkan ancaman, tergantung bagaimana akses tersebut dimanfaatkan.
Di sisi lain, terdapat batasan etika yang tetap perlu dijaga. Tidak semua hal yang secara teknis memungkinkan untuk dilakukan seharusnya dilakukan dalam praktik bisnis. Kompetisi yang sehat penting untuk mendorong inovasi, tetapi cara-cara yang tidak etis hanya akan menciptakan ketidakpercayaan dan merugikan semua pihak, termasuk pengguna yang datanya menjadi bagian dari sistem tersebut.
Kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa produk dan data yang bernilai perlu dilindungi dengan serius. Di tengah perkembangan AI yang sangat cepat, bisnis yang berkelanjutan tetap dibangun di atas kepercayaan dan integritas, bukan pada jalan pintas.