Jujur Saja, Apa Itu Vibe Coding?
Kemarin pagi saya membaca sebuah artikel tentang vibe coding. Awalnya saya juga agak bingung. Istilahnya terdengar seperti jargon baru yang terlalu “trend-driven”.
Namun setelah saya pelajari lebih jauh, saya mulai memahami mengapa pendekatan ini mulai banyak dibicarakan.
Secara sederhana, vibe coding adalah pendekatan dalam pengembangan software yang lebih menekankan pada pemahaman logika dan alur solusi, dibandingkan terlalu cepat terjebak pada detail teknis seperti syntax, formatting, atau struktur kode di tahap awal.
Dengan bantuan AI modern, banyak hal teknis tersebut kini dapat ditangani secara otomatis. Artinya, developer bisa lebih fokus pada bagaimana sebuah solusi bekerja, bukan sekadar bagaimana kode itu ditulis secara sempurna sejak awal.
Beberapa Area yang Bisa Dieksplorasi
Setelah diskusi dengan tim teknis kami di PT. Prima Visi Globalindo, ada beberapa konteks di mana pendekatan seperti ini cukup menarik untuk dicoba:
1. Rapid Prototyping
Dalam pengembangan MVP, tim sering terhambat pada detail implementasi yang sebenarnya belum krusial di tahap awal.
Pendekatan ini memungkinkan developer fokus pada fungsi inti terlebih dahulu, baru kemudian melakukan refactoring jika solusi tersebut memang akan di-scale.
2. Brainstorming Teknis dalam Tim
Sering kali developer enggan menyampaikan ide awal karena khawatir belum sesuai dengan best practice.
Dengan pendekatan yang lebih eksploratif, ide dapat muncul lebih cepat sebelum diformalisasi menjadi solusi teknis yang matang.
3. Onboarding Developer Junior
Developer junior kerap terhambat oleh keinginan untuk langsung menghasilkan kode yang “sempurna”.
Padahal di tahap awal, pemahaman logika jauh lebih penting daripada kualitas struktur kode.
Pendekatan ini memberi ruang belajar yang lebih natural sebelum masuk ke standar produksi.
4. Kolaborasi Lintas Fungsi
Dalam diskusi antara tim teknis dan non-teknis (seperti product atau design), komunikasi sering tersendat karena terlalu cepat masuk ke detail implementasi.
Pendekatan ini dapat menjadi jembatan agar ide solusi bisa dibahas di level konseptual terlebih dahulu.
5. Eksplorasi Teknologi Baru
Saat mencoba framework atau library baru, kurva pembelajaran sering kali cukup panjang.
Fokus pada konsep solusi di awal dapat mempercepat proses pemahaman sebelum masuk ke dokumentasi teknis secara mendalam.
Catatan Penting
Tentu saja, ini bukan pendekatan yang cocok untuk semua konteks.
Untuk sistem produksi yang bersifat kritikal dan membutuhkan maintainability jangka panjang, disiplin engineering tetap menjadi prioritas utama.
Pendekatan seperti ini lebih relevan pada fase eksplorasi dibandingkan implementasi final.
Selain itu, penggunaan AI tetap harus diimbangi dengan proses QA yang kuat.
Automasi tanpa validasi justru berpotensi menambah risiko teknis di kemudian hari.
Penutup
Menurut saya, vibe coding layak untuk dieksperimenkan bukan sebagai pengganti metode pengembangan yang ada, tetapi sebagai pelengkap dalam konteks tertentu.
Mungkin bukan untuk production system, tetapi cukup menarik untuk dicoba dalam pengembangan prototype atau fase eksplorasi solusi.
Apakah ada yang sudah pernah mencoba pendekatan serupa di tim masing-masing?