Jujur, Ini Bikin Saya Tertarik
Kemarin saya baca berita tentang Dario Amodei dan Anthropic, dan gak langsung lewat begitu aja. Soalnya dia bukan hanya ngomong tentang teknologi AI yang cool-cool aja, tapi lebih dalam ke filosofi dan value system mereka dalam membangun perusahaan.
Sebagai CEO yang juga punya visi tertentu soal startup saya, saya respect banget cara Dario mengkomunikasikan beliefs mereka. Bukan cuma teknis, tapi juga ethical thinking yang kental.
Kenapa Mereka Beda?
Yang menarik dari Anthropic adalah mereka tidak berlari ke arah hype yang paling menguntungkan. Saat semua orang excitement dengan scale model sebesarnya, mereka lebih fokus ke safety dan interpretability. Itu berani banget.
Saya lihat di industri software kita, banyak founder yang ingin cepat besar, cepat dapat funding, cepat go public. Tapi Anthropic seperti berkata: tidak, dulu kita pastikan produk kita aman dan bisa dipahami manusia.
Ini seperti memilih untuk naik tangga satu-satu daripada langsung lompat. Belum tentu yang lompat itu mati, tapi risiko jatuhnya lebih besar, kan?
Apa Itu Visi Mereka Sebenarnya?
Dari apa yang saya tangkap, Dario dan timnya percaya bahwa AI yang kuat harus alignment dengan nilai-nilai manusia. Bukan hanya powerful, tapi juga aligned dengan apa yang manusia inginkan.
Mereka spend banyak resource untuk research ini. Constitutional AI, red teaming, semua itu bukan marketing gimmick tapi sungguhan investigation tentang bagaimana membuat AI yang lebih trustworthy.
Saya pikir ini penting sekali. Karena kalau kita tidak hati-hati sekarang, nanti kita punya tool yang powerful tapi bisa disalahgunakan atau bikin problem yang gede.
Ini Berbeda dari Kompetitor Lain
Kalau kita lihat OpenAI atau tech giants lain, mereka juga care soal safety. Tapi vibe mereka sedikit berbeda. Mereka lebih seperti membangun barikade di sekitar teknologi mereka sambil invest di safety sebagai bagian dari strategy.
Sementara Anthropic, sejak awal positioning mereka adalah perusahaan yang built on safety research. Safety bukan side project, ini core business mereka.
Dari sudut bisnis, ini bold move. Karena market tidak selalu reward yang safety-first. Market often reward yang fast dan powerful dulu.
Apa Yang Saya Ambil dari Ini?
Saya mikir ada lesson buat founder seperti saya. Kita bisa build something yang powerful AND responsible. Kita tidak perlu pilih satu.
Malah saya pikir long term, yang bertahan adalah yang balance antara innovation dan responsibility. Market mungkin belum reward itu hari ini, tapi seiring waktu, consumer dan regulasi akan mulai peduli.
Dario seperti leading by example bahwa kita bisa bicara soal values, implement it, dan tetap grow sebagai business. Itu inspiratif, honestly.
Closing Thought
Saya rasa dunia software dan AI Indonesia bisa belajar dari mindset mereka. Bukan berarti kita harus copy-paste approach Anthropic, tapi idenya bahwa kita build dengan purpose dan values itu worth adopting.
Pertanyaannya: kalau setiap startup tech di Indonesia mulai dengan pertanyaan “teknologi ini untuk apa dan siapa yang bakal kena dampaknya?”, gimana ya startup landscape kita berubah? Ada yang setuju atau malah mikir ini terlalu idealis untuk Indonesia?