Ketika saya tampil di panggung seminar Career Development Program dari ITS Tgl 14 Desember 2025,ada pertanyaan dari orang tua mahasiswa.
Beliau bertanya “bgm anaknya bisa menjadi CEO spt bapak2 di depan, dan apa yg harus dipersiapkan?”
Saya giliran pertama menjawab, “bahwa saya menjadi CEO tdk terbayangkan. Karena awal2 saya tdk mendirikan bisnis tapi mengerjakan proyek kemudian berkembang.”
Pada intinya saya mempunyai perusahaan ini karena the power of kepepet.
Saya tidak pede saat awal2 mendirikan perusahaan karena pengusaha menurut buku2 yg saya baca adalah orang yg punya kepribadian yg sempurna seolah tanpa cela.
Padahal kalau pingin jadi pengusaha ya jadi pengusaha saja, langsung terjun tanpa banyak teori.
Menariknya, justru banyak buku kewirausahaan yang belakangan saya baca mendukung pengalaman seperti ini.
Eric Ries dalam The Lean Startup menekankan bahwa bisnis itu tumbuh dari aksi kecil, eksperimen, dan kesalahan, bukan dari perencanaan sempurna. Belajar bukan di kelas, tapi di lapangan.
Ben Horowitz lewat The Hard Thing About Hard Things juga bercerita jujur bahwa menjadi CEO itu penuh rasa ragu, takut, dan keputusan sulit—dan semua itu tidak bisa dipelajari dari teori atau buku motivasi.
Dalam Founders at Work, kisah para pendiri perusahaan besar pun hampir sama: mereka tidak merasa siap, tidak merasa hebat, tapi terpaksa jalan, dan justru di situlah proses pembelajaran terjadi.
Jadi mungkin gambaran pengusaha sebagai sosok “sempurna” itu keliru.Yang ada justru orang biasa, dengan rasa tidak pede, yang dipaksa keadaan untuk belajar cepat.Bukan karena siap lalu berani,tapi karena berani akhirnya menjadi siap.