Artificial Intelligence (AI) terus berkembang pesat dan kini menjadi faktor penentu daya saing ekonomi global. Laporan Digital Progress and Trends Report 2025 dari World Bank menegaskan bahwa negara maju menguasai hampir seluruh pilar inovasi AI: 87% model AI tercipta di negara kaya, 91% pendanaan startup AI berpusat di sana, dan mereka memiliki akses compute 200–20.000 kali lebih besar dibanding negara berkembang. Ini menciptakan jurang digital baru—jauh lebih dalam dari sekadar akses internet.
Negara berkembang bisa mendapat peluang besar dari AI, tetapi hanya jika mereka memperkuat 4 fondasi utama (4Cs): Connectivity, Compute, Context, Competency.Bagaimana AI Memperlebar Ketimpangan?
Konsentrasi inovasi & pendanaan Negara maju seperti AS, Tiongkok, Kanada, Eropa mendominasi:86% startup AI global 73% pendanaan VC AI.62% model AI yang dianggap “notable” dunia.
Sementara negara berkembang hanya berkontribusi:<1% pada pembuatan model AI besar dan <1% pendanaan startup AI.
Contoh nyata:GPT, Claude, Gemini, Mistral — semuanya berasal dari negara maju.
Bahkan model open-source seperti Llama juga dikembangkan di Amerika Serikat.
Tapi AI Juga Peluang Besar—Jika Negara Berkembang Bergerak Cepat.
Contoh nyata implementasi AI di negara berkembang:
1. India – AI untuk pertanian skala nasionalPetani menggunakan aplikasi KisanGPT dan Plantix untuk diagnosis penyakit tanaman melalui foto ponsel.Tingkat akurasi hampir 90%.Ini mengurangi kerugian panen dan meningkatkan pendapatan petani kecil.
2. Rwanda – AI untuk sistem kesehatan ruralPemerintah Rwanda menggunakan drone AI untuk pengiriman darah (Zipline).Rumah sakit rural memakai AI untuk deteksi pneumonia via X-ray.Hasilnya: waktu diagnosis turun 60%.
3. Indonesia – AI untuk UMKM & pendidikanGuru memakai platform AI (seperti RuangGuru AI Tools) untuk membuat RPP dan bahan ajar.UMKM menggunakan AI untuk copywriting, desain kemasan, dan laporan keuangan sederhana.AI terbukti mampu meningkatkan efisiensi di negara berkembang tanpa butuh investasi besar.
Apa yang Harus Dilakukan Negara Berkembang?
1. Bangun strategi nasional AI yang fokus pada pemanfaatan AI, bukan hanya regulasi.
2. Prioritaskan “Small AI” (AI sederhana namun berdampak cepat) bagi sektor pertanian, UMKM, pendidikan, dan kesehatan.
3. Investasi pada 4C (Connectivity, Compute, Context, Competency).4. Dorong data lokal menjadi aset strategis.